Review Ancestors: The Humankind Odyssey

0
68
5/5 (5)

Tidak semua game petualangan mengharuskan kalian membunuh musuh. Ada juga game petualang yang mengharuskan kita untuk bertahan. Kehadiran Game Ancestors: The Humankind Odyssey yang menyiratkan perjuangan para leluhur kita untuk berevolusi.

Baca Juga :

Game ini mengambil latar belantara Afrika. Di sana, kita bakal memainkan karakter kera cerdas yang harus bertahan di ganasnya hutan yang lebat.

Penasaran sama game evolusi Ancestors: The Humankind Odyssey, simak review dari Jagoan Game berikut.

Grafis dan Kontrol Ancestors: The Humankind Odyssey

Game ini membawa kekuatan realisme grafis yang sangat total. Mulai dari belantara hutan, tekstur air, hingga beragam bioma yang disajikan sebagai latar permainan terlihat sangat hidup. Belum lagi karakter kera hingga beragam predator dan penghuni hutan lain yang berinteraksi seiring waktu.

Di dalam game ini, karakter kera yang kita mainkan bisa memanjat setiap pohon dan dahan. Kontrol yang halus ini membuat gerakan terlihat sangat natural. Sederhananya setiap permukaan bisa dipeluk dan dipanjat.

Sayangnya, interaksi dan kontrol untuk karakter bisa dibilang belum praktis. Untuk berinteraksi dengan sekitar, kita dituntut melakukan pengamatan lebih dulu dan mempertimbangkan keputusan yang kita ambil.

Ancestors: The Humankind Odyssey mengklaim kalau kontrol di dalam game ini lebih efektif menggunakan gamepad atau stick. Memang, saat dicoba, kontrol untuk game ini terasa lebih pas.

Sensasi Yang Unik Ancestors: The Humankind Odyssey

Sebagai game petualangan dan survival, Ancestors: The Humankind Odyssey menyediakan pengalaman bermain yang baru. Hutan belantara yang kita jelajahi bakal sangat membingungkan. Pasalnya, di game ini enggak disediakan interface peta serta patokan wilayah sehingga kalian bakal dituntut untuk berimprovisasi sebebas mungkin.

Seolah-olah pemain memang dituntut merasakan pengalaman memainkan karakter primata. Untuk belajar wilayah hutan, kita diharuskan mengamati patokan pohon yang harus diingat sebagai penanda jalan. Jika tidak ingin tersesat, kita dituntut membuka jalan sedikit demi sedikit.

Alih-alih memakai satu karakter, kita bakal memainkan sekawanan kera yang dibagi sebagai satu kawanan. Jika karakter yang kita mainkan hilang maupun meninggal diterkam predator, kita bakal otomatis memainkan karakter baru.

Game ini punya objektif untuk mempercepat evolusi. Nantinya, setiap pembelajaran mengenai interaksi seperti menggunakan tangkai pohon hingga memperhatikan langit malam bakal mengembangkan sel saraf dari lineage kera yang kita mainkan.

Sistem permainan menjadi binatang ini terasa seperti sebuah inovasi yang bisa menjadi daya tarik untuk memainkan game ini. Terutama kalau kalian memang suka game eksplorasi yang membebaskan kalian untuk menjelajahi semua yang ada di dalamnya.

Gameplay Yang Rumit

Game ini memang punya kelebihan dalam membebaskan pemainnya untuk melakukan hal-hal yang gila. Namun, gameplay yang ditawarkan oleh Ancestors: The Humankind Odyssey bisa jadi terasa sangat rumit di momen-momen tertentu

Di awal permainan, para kera bakal ketakutan dan menampilkan imaji para predator di semak-semak. Hal ini sempat membuat permainan terasa seperti game horor. Padahal insting karakter yang kita pakai cenderung hati-hati.

Game ini sebenarnya memperhatikan unsur-unsur adaptasi serta hubungan makhluk hidup yang sangat dalam. Meski aspek ini terasa segar, bagi pemain yang mengharapkan aksi, sayangnya kalian enggak bakal menemukan sistem pertarungan. Di depan para predator, para leluhur kita dituntut untuk melarikan diri atau melakukan intimidasi untuk mengusir.

Ancestors: The Humankind Odyssey lebih cocok dibilang sebagai game eksplorasi. Di sini kita bisa melihat proses rumit sebuah evolusi dari kera hingga menjadi manusia. Menuju akhir permainan, kita bakal menemukan perubahan signifikan dari sosok kera yang kita pakai.

Progresi dan Mekanik

Dengan objektif yang cukup ambisius, game ini bakal memberi kesan yang campur aduk. Di awal permainan, kalian bakal sering tersesat dan mengulangi lineage. Ketika mampu beranjak dari chapter pertama, nantinya enggak bakal banyak perubahan yang membuat kita bisa menangkap arah dari game ini.

Di tengah permainan, kegiatan repetitif seperti mencari makan serta melakukan eksplorasi sedikit demi sedikit mulai terasa membosankan. Pemain benar-benar dituntut melakukan improvisasi untuk membongkar rahasia serta mengembangkan spesies.

Meski mekaniknya juga tergolong tanggung, Ancestors: The Humankind Odyssey enggak menawarkan gameplay yang praktis. Alih-alih, game ini bakal menyediakan edukasi mengenai teori evolusi manusia yang cukup komprehensif.

Untuk ukuran game yang berhasil membawakan pengalaman baru, Ancestors: The Humankind Odyssey bisa jadi game yang wajib kalian coba. Sayangnya, kalau kalian mengharapkan aksi pukul-pukulan (atau saling buru) sesama binatang, siap-siap kecewa karena cuma kalian yang akan dimakan.

Panache Digital Games punya beberapa pekerjaan rumah untuk memberikan permainan menarik jika ingin membawakan babak baru untuk cerita di dalamnya. Semoga saja sekuel baru nanti bakal membawa permainan yang lebih bergairah.

Minimum Requirements PC

  • OS: Windows 7 Spl 64-bit
  • GPU: GeForce GTX 760 (4 GB) atau Radeon HD 7950 (3 GB)
  • CPU: Intel Core i5-2500K atau AMD Phenom II X6 1100T
  • RAM: 8 GB

Recommended Requirements PC

  • OS: Windows 10 64-bit
  • GPU: GeForce GTX 980 (4 GB) atau Radeon RX 480 (8 GB)
  • CPU: Intel Core i7-4770K atau AMD Ryen 5 1600
  • RAM: 8 GB

Itulah Review Game Ancestors: The Humankind Odyssey. Terus ikutin juga review game serta tulisan menarik lainnya hanya di Jagoan Game.

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here