Review Call of Duty: Mobile

0
48
5/5 (8)

Demam game mobile nampaknya sudah mulai menjangkiti pengembang dan penerbit game barat. Buktinya bisa kalian lihat sendiri pada Call of Duty: Mobile, game garapan Tencent yang diterbitkan oleh Activision untuk pasar global, serta Garena di pasar Asia Tenggara.

Nama Call of Duty (CoD) tentunya enggak asing lagi bagi penggemar game shooter. Waralaba yang satu ini sudah cukup melegenda di ranah konsol maupun PC. Sayang, pamornya perlahan redup seiring munculnya game battle royale seperti PUBG.

Melihat kesuksesan PUBG dengan versi mobile-nya, enggak heran jika publisher sekelas Activision dan Garena tertarik untuk melakukan hal yang sama. Namun, apakah segala yang ditawarkan di Call of Duty: Mobile mampu bersaing dengan kompetitornya sesama battle royale yang telah lebih dulu populer di Tanah Air.

Setelah melakan beberapa tahap beta dan membuat gamers menunggu cukup lama, akhirnya Call of Duty: Mobile sudah rilis secara global, termasuk versi Garena untuk Indonesia, sejak Selasa, 1 Oktober 2019. Setelah rilis, tentu game besutan Activision dan Tencent Games ini akan menjadi penantang serius dari dominasi game battle royale lainnya seperti PUBG Mobile dan Free Fire.

Sebenarnya Garena sendiri sudah membuka tahap pre-registrasi untuk Call of Duty: Mobile sejak 24 Juli 2019 lalu. Nah sebelum kalian mulai bermain, pastikan sudah mengetahui fakta menarik dari Call of Duty: Mobile berikut ini.

Gameplay Call of Duty: Mobile

Seperti kebanyakan game battle royale lain, mode permainan battle royale di game ini akan membawa pemain untuk bertarung dan bertahan menjadi yang terakhir dari total 100 pemain. Seluruh pemain akan diterjukan ke sebuah pulau terpencil dengan berbagai senjata dan equipment tersebar di berbagai bangunan dan sudut berbeda. Di mode battle royale ini, kalian bisa bermain secara solo, duo, hingga tim yang terdiri dari 4 orang.

Namun tentu ada berbagai perbedaan yang membuatnya tidak serta merta menjadi game plagiat. Sajian grafis futuristik dengan dilengkapi beberapa role berbeda saat bermain secara tim akan membuat permainan berjalan dengan lebih menarik. Setiap role tersebut memiliki ability yang berbeda satu sama lain.

Ada satu hal penting yang wajib kalian ketahui dari Call of Duty: Mobile. Jangan sampai salah kaprah mengira game ini mengandalkan battle royale. Justru, mode Deathmatch lah yang justru jadi fitur utama game ini.

Baca Juga :

Yap, saat pertama kali bermain, kalian akan disuguhkan dengan mode Multiplayer bernama Frontline. Mode ini kurang lebih sama dengan mode utama game shooter lain seperti Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO) atau Point Blank (PB).

Kalian akan bermain lima versus lima dan diwajibkan untuk menghabisi musuh sebanyak-banyaknya. Kemenangan pun akan tim kalian raih jika berhasil mencapai skor kill 50 terlebih dulu. Jika mati, kalian akan respawn di markas.

Tak hanya Frontline, masih ada ragam mode Deathmatch yang bisa kalian mainkan. Ada Team Deathmatch yang sama dengan Frontline, tapi dengan respawn secara acak. Selain itu, ada mode taktis seperti Destroy yang sama dengan mode ngebom di CS:GO atau PB.

Sementara itu, mode battle royale baru bisa kalian nikmati saat akun kalian mencapai level 8. Hal ini pun jelas menunjukkan bahwa battle royale bukan menjadi andalan utama Call of Duty: Mobile.

Fitur-fitur baru seperti Scorestreaks berperan membuat permainan jadi lebih atraktif. Di fitur ini, kalian bisa menggunakan “senjata tambahan” seperti UAV, Drone, hingga misil udara jika berhasil membunuh musuh secara beruntun.

Selain itu, ada juga Operator Skill. Dengan fitur ini, kalian bisa menggunakan senjata kelas berat seperti flamethrower atau gatling gun jika kalian berhasil mendapatkan banyak skor kill.

Secara keseluruhan, mode saling bunuh ini cukup sukses menghidupkan kembali euforia Team Deathmatch. Keseruan yang disajikan serta objektif untuk menjadi yang terbaik membuatnya terasa seperti magnet yang terus menarik kita untuk memainkannya.

Namun, ada sedikit catatan dari mode ini. Meski pada awalnya terasa nagih, potensi jenuh pun makin lama akan terasa jika kalian terus bermain mode ini secara non-stop. Terlebih, tempo permainan Deathmatch terasa sangat cepat dibandingkan dengan battle royale.

Memang, untuk saat ini Tencent sukses mengakali repetisi dengan reward serta upgrade yang akan kalian dapatkan seiring meningkatnya level akun. Namun, jika update stagnan, tak heran jika pada akhirnya mode ini ditinggalkan secara perlahan oleh para pemainnya.

Harus diakui, euforia battle royale membuat penggemar berekspektasi lebih terhadap Call of Duty: Mobile. Memang, battle royale tidak menjadi mode utama di game ini. Walau begitu, Tencent berhasil mengeksekusi mode tersebut dengan baik.

Perlu kalian catat, mode battle royale di Call of Duty: Mobile bisa dikatakan sebagai portasi mode Blackout pada Call of Duty: Black Ops IV. Buat yang pernah memainkannya, pasti kalian merasa dua mode berbeda platform ini terasa sama.

Hal ini tentu menjadi nilai lebih buat Call of Duty: Mobile. Pasalnya, mereka melakukan langkah yang sama positifnya dengan PUBG dengan PUBG Mobile-nya. Keduanya sama-sama menarik dari segala aspek dan tidak membuat versi mobile-nya tidak seperti takedown dari versi PC.

Fiture dan mode permainan

Tidak hanya mode battle royale saja yang menjadi fokus utama, nantinya kalian dapat bermain dalam berbagai mode permainan lain yang dihadirkan. Beberapa mode tersebut termasuk Frontline, Team Deathmatch, Domination, Gun Game, dan Search & Destroy.

Kalian juga dapat memilih beberapa map yang ikonik dari seri klasik Modern Warfare dan Black Ops. Beberapa map tersebut diantaranya yaitu Standoff, Nuketown, Hijacked, dan Killhouse, serta beberapa map lainnya.

Tidak lupa, hadir juga kaarkter-karakter dari franchise game Call of Duty lainnya seperti Alex Mason (Black Ops), David “Section” Mason (Black Ops II), Thomas A. Merric (Ghosts), Simon “Ghost” Riley (Modern Warfare 2), John “Soap” MacTavish (Modern Warfare) dan John Price (Modern Warfare).

Fitur yang lebih variatif juga menjadi nilai lebih battle royale Call of Duty: Mobile jika dibandingkan dengan PUBG Mobile. Format persenjataan serta perlengkapan memang sama. Namun, game ini punya lebih banyak senjata serta kendaraan. Bahkan, kalian sudah bisa mengendarai helikopter, fitur yang saat ini masih jadi wacana di PUBG Mobile.

Kelebihan lainnya adalah hadirnya sistem kelas. Ada enam kelas yang tersedia dengan skill yang berbeda. Misalnya Scout dengan kemampuan tracking musuh, Defender yang bisa membuat perisai, hingga Clown si pemanggil zombi alias si mainan robot pembawa bom.

Untuk saat ini, PUBG Mobile memang masih lebih unggul berkat pilihan map yang lebih banyak. Namun, jika Tencent terus mengeluarkan map baru, enggak heran jika Call of Duty: Mobile akan jadi pesaing terberat battle royale buatan Brendan “PlayerUnknown” Greene tersebut.

Visual Call of Duty: Mobile

Sama seperti “saudara” tuanya di platform seberang, kualitas visual menjadi salah satu kelebihan utama Call of Duty: Mobile. Memang, untuk saat ini CoD untuk PC atau konsol masih kalah fantastis ketimbang game lain. Namun, sang “adik” sudah pantas dibilang menjadi salah satu game mobile dengan grafis terbaik saat ini.

Grafis yang ditawarkan memang terlihat fantastis. Namun, sejatinya bukan itu yang bikin game ini istimewa. Keistimewaan itu akan lebih terasa bagi penggemar setia waralaba CoD. Pasalnya tampilan visual game ini bisa dikatakan membangkitkan nostalgia.

Map-map pada mode Deathmatch bisa dikatakan jadi adaptasi dari “saudara” tuanya. Begitu juga beberapa lokasi pada map mode battle royale yang mengambil inspirasi dari game-game lama CoD.

Perlu kalian catat, kenikmatan visual yang ditawarkan game ini tentu butuh pengorbanan. Dilansir Hutmobile, untuk mendapatkan pengalaman standar, smartphone Android kalian setidaknya dilengkapi chipset Snapdragon 625 dengan RAM 3GB dan GPU Adreno 506.

Sedangkan untuk pengalaman visual yang lebih fantastis, setidaknya gadget kalian minimal udah punya chipset sekelas Snapdragon 660 serta RAM 4GB ke atas. Memang cukup demanding, tapi sepadan dengan apa yang akan kalian dapat.

Mikrotransaksi

Mikrotransaksi harus diakui sudah tidak bisa lepas dari game mobile kekinian. Call of Duty: Mobile pun menerapkan elemen tersebut ke permainannya.
Di sisi lain, game ini juga jadi terasa imba karena pembelian senjata tersebut. Sebab, ada item EXP yang bisa menambahkan atribut senjata. Meski kecil, pengaruhnya tetap terasa jika kalian memperhatikan detail.

Potensi mikrotransaksi yang tak berimbang pun tetap ada. Tentu penggemar game shooter ingat betapa imba-nya Point Blank dulu. Hal tersebut disebabkan adanya senjata atau karakter “robot” yang menambah atribut pemain di pertandingan dengan membelinya.

Untuk saat ini, Call of Duty: Mobile tampak berupaya keras untuk tetap seimbang. Namun, kita enggak bisa bilang game ini 100% imbang. Jika harus dibandingkan, level imba-nya berada di antara PUBG Mobile dan Point Blank zaman dulu.

Masih Ada Kekurangan

Di satu sisi, game ini terbilang berhasil dari segi estetika. Semua yang tampak secara kasat mata maupun yang terdengar di telinga sudah cukup memanjakan.

Namun, harus diakui masih ada beberapa kekurangan di sisi lain. Terutama jika sudah membahas pengalaman bermain dari segi kontrol yang terasa kurang realistis.

Jika dibandingkan dengan PUBG Mobile, kontrol di Call of Duty: Mobile terasa kurang smooth. Sensitivitas layar juga terasa lebih tinggi ketimbang sang kompetitor meski sudah diatur ke tingkat yang lebih rendah.

Jika bicara soal realistis, game ini masih kalah dari sang competitor dari segi grafis. Meski lanskap environment tampak fantastis, masih ada beberapa aspek yang justru enggak bisa mengimbangi. Contohnya seperti rumput yang tampak begitu sederhana.

Hadirnya Call of Duty: Mobile bisa dibilang jadi angin segar di tengah tren battle royale yang masih hangat. Meski enggak bisa dibilang sebagai inovasi, apa yang ditawarkan Tencent di game barunya sudah lebih dari cukup menggoda penggemar PUBG Mobile untuk beralih ke lain hati.

Beberapa aspek memang masih ada yang perlu diperbaiki. Namun, hal tersebut bukan jadi kendala karena kelemahan tersebut bukannya tak bisa dibenahi. Terutama jika pengembang rajin update konten baru dan memperbaiki kekurangan, game ini punya potensi besar untuk jadi pesaing terberat lapak sebelah.

Selera juga bisa jadi faktor utama penilaian kalian terhadap game ini. Terutama buat kalian yang udah jadi “veteran” di game sebelah. Beberapa aspek yang terasa kurang realistis tentu akan jadi batu ganjalan.

Pengalaman bermain yang akan kalian rasakan di game ini mungkin enggak lebih alami. Namun, semua balik lagi ke selera kalian sebagai gamer. Jika menurut kalian masalah realistis bukan masalah, game ini sudah jelas bakal memanjakan kalian.

Spesifikasi Minimum Ponsel

Sebelum mulai mendownload dan bermain, ada baiknya kalian cek terlebih dulu spesifikasi minimum ponsel yang dapat digunakan untuk dapat bermain Call of Duty: Mobile dengan lancar. Hal tersebut tentu untuk mencegah pengunduhan yang sia-sia jika nantinya tidak dapat bermain, apalagi game ini memiliki ukuran download yang relatif cukup besar.

Untuk dapat bermain di perangkat Android, diperlukan setidaknya 2GB RAM dengan menggunakan sistem operasi 5.1 ke atas. Untuk kapasitas penyimpanan, pastikan ruang penyimpanan di ponsel kalian tersisa lebih dari 1,5GB. Sedangkan untuk processor, diperlukan minimal CPU octa core 2GHz agar dapat bermain dengan lancar tanpa lag sama sekali.

Jika kalian pengguna ponsel iOS, kalian dapat bermain Call of Duty: Mobile jika sudah menjalankan sistem operasi iOS 5.0 ke atas. Jadi untuk kalian yang masih menggunakan iPhone 5S, iPhone 6, iPhone 6 Plus, iPhone SE tentu masih bisa bermain.

Download Call of Duty: Mobile

Play Store | App Store

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here