Review Call of Duty Modern Warfare 2019

0
27
5/5 (5)

Jagoangame.com – Review Call of Duty Modern Warfare 2019 – Call of Duty adalah sebuah nama yang unik di industri game. Tidak ada lagi nama game di industri game yang di setiap kali pengumuman seri terbarunya selalu diikuti dengan diskusi dan debat intens yang biasanya terjadi antara dua kubu: mereka yang sudah muak dengan rilis tahunan yang ia lakukan dan mereka yang masih secara konsisten menikmati setiap seri yang muncul.

Bahwa terlepas dari fakta bahwa franchise ini ditangani oleh tiga tim developer yang berbeda yang terus berusaha menawarkan sesuatu yan baru dan berbeda, stigma ini sulit dihapus. Namun sesuatu yang berbeda terjadi di tahun 2019 ini, ketika tanggung jawab yang kini berada di pundak Infinity Ward dibayar dengan kembalinya nama ikonik yaitu Modern Warfare. Game ini hadir untuk Playstation 4, PC dan Xbox.

Kesan pertama yang ia hadirkan memang mengesankan game yang lebih gelap dan berat, yang mengacu pada dua hal: kualitas visualisasi memesona yang ia usung dan tema cerita yang ia angkat untuk menawarkan cita rasa perang yang disebut sebagai Infinity Ward, lebih relevan. Terlepas dari beberapa perubahan yang pantas disambut dengan baik, tidak kesemua usaha untuk tampil berbeda ini bisa dibilang berhasil.

Kehadiran engine baru yang diklaim oleh Infinity Ward dan Activision memang membuat Call of Duty Modern Warfare 2019 ini hadir dengan kualitas visualisasi yang memesona, dari sekedar efek cahaya hingga detail api dari molotov yang baru saja Anda lempar. Yang menarik adalah pendekatan baru dari sisi penyajian cerita yang kini tidak lagi sepenuhnya diambil dari kacamata orang pertama seperti halnya seri-seri Call of Duty Modern Warfare lawas.

Potongan cerita kini juga disajikan dalam bentuk cut-scene pre-rendered dari kacamata orang ketiga yang jelas memperlihatkan wajah mereka. Pendekatan ini memang terasa lebih modern, namun atas nama preferensi pribadi, kami lebih cenderung menyukai pendekatan lawas. Melihat semua garis cerita dari sudut pandang orang pertama, harus diakui, lebih imersif daripada cut-scene seperti ini.

Satu yang menarik adalah pemenuhan klaim bahwa mereka ingin menyajikan sebuah cerita soal perang dari mode single-player campaign, yang lebih punya impact dan representatif terhadap konflik global saat ini. Ada hal yang berhasil mereka lakukan dan ada yang berakhir gagal. Menangkap terror dan konsekuensi fatal sebuah perang yang lebih lugas. Anda bisa melihat begitu banyaknya orang-orang tidak bersalah yang harus menanggung akibat dari permainan politik dan pemaksaan ideologi oleh beragam pihak, terutama mereka yang bersenjata.

Sesederhana itu. Ada usaha untuk memotret gelapnya aksi yang Anda lakukan, tetapi berakhir terjustifikasi karena potret tentara musuh yang seolah datang tanpa pertimbangan nilai moral sama sekali.

Salah satu perubahan paling signifikan justru datang dari mode multiplayer yang ia usung. Karena berbeda dengan seri-seri COD selama ini yang berakhir memungkinkan Anda melakukan Gun and Run, dimana Anda membunuh secepat mungkin dan berlari mengejar korban selanjutnya, Call of duty Modern Warfare 2019 terasa lebih lambat dan taktikal di saat yang sama. Bahwa dengan desain peta yang ada, bahkan di mode Team Deathmatch sekalipun, berusaha melakukan hal ini sama saja dengan mati.

Ada begitu banyak celah musuh untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Anda, yang kini juga didorong animasi gerak yang terasa lebih berat dan lambat. Kini ada mode Ground War yaitu sebuah skema perang masif ala seri Battlefield EA yang akhirnya, memungkinkan Anda untuk mengendarai dan mengendalikan beberapa kendaraan perang untuk keuntungan strategis tertentu.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Call of Duty Modern Warfare 2019 ini, simak ulasannya berikut ini.

Plot

CALL of DUTY MODERN WARFARE PART 1

Hadir sebagai seri reboot, terlepas dari kemiripan dengan karakter seri Modern Warfare sebelumnya, setiap karakter yang Anda temui adalah karakter berbeda dengan konflik dan latar belakang cerita yang baru.

Seri Modern Warfare untuk tahun 2019 ini memang sebuah seri reboot. Ini berarti, bahwa terlepas dari beberapa nama karakter yang kembali, tidak satupun dari mereka yang berbagi masa lalu dan keterkaitan sama sekali dengan trilogi Modern Warfare yang sempat dilepas Infinity Ward di masa lalu. Ini adalah sebuah kisah baru dengan karakter baru yang sekedar “meminjam” nama dan mungkin, kemiripan karakter, namun diposisikan sebagai entitas original di garis cerita yang berbeda.

Call of duty Modern Warfare 2019 membawa Anda pada sebuah ancaman baru super menyeramkan yaitu sebuah senjata kimia berbentuk gas yang berhasil dicuri dari militer Russia oleh sebuah organisasi teroris bernama Al-Qatala. Dipimpin oleh Omar “The Wolf” Sulaman, organisasi ini tentu saja langsung jadi buruan utama tentara khusus Amerika Serikat dan Inggris, terutama karena potensi serangan di kota penting mereka. Untuk bisa melacak dan memburu Omar, sekaligus mengamankan senjata gas tersebut, mereka harus bekerja sama dengan Farah – pemimpin pemberontak dari negara yang sama dengan asal Omar yaitu Urzikstan.

Baca Juga :

Serangkaian aksi terror yang terjadi menimbulkan kekhawatiran soal pelepasan senjata kimia yang bahkan lebih destruktif oleh kelompok terkait.

Adalah Omar dari kelompok Al-Qatala yang diyakini sebagai dalang serangan. Proses perburuan ini ternyata tidak hanya melibatkan Farah dan Urzikstan saja. Pelan tapi pasti, tentara khusus yang kini berada di bawah pimpinan Price, mau tidak mau juga harus bersinggungan dengan Russia.

Russia yang menguasai Urzikstan lewat proses invasi yang dipimpin oleh Barkov yaitu seorang perwira militer yang tak punya belas kasihan, menjadi musuh utama pasukan pemberontak Urzikstan. Bertukar utang budi antara Farah dan pasukan khusus Price menjadi pondasi dalam kerjasama untuk berburu Omar yang setiap detik eksistensinya, semakin berbahaya. Namun seperti yang bisa diprediksi, Omar bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab di sini.

Bulu kuduk Anda juga cukup merinding ketika melihat pasukan bersenjata tiba-tiba menyerbu kota London dan menembakkan senjata mesin ke arah penduduk sipil yang berlarian. Setidaknya untuk aspek ini, Infinity Ward melakukan tugasnya yang baik.

Namun sayangnya, kesan kuat itu tidak berhasil dihadirkan oleh ragam momen “penting” yang sempat disebut-sebut Infinity Ward akan membuat gamer mempertanyakan moral mereka. Mereka memang merancang beragam situasi dinamis dan genting dimana gerak cepat gamer untuk menekan pelatuk senjata mesin akan menentukan siapa yang hidup dan mati, dari situasi sandera hingga terorisme di tengah keramaian. Tetapi apa yang berusaha mereka dorong tersebut justru terasa seperti pisau “realita” yang terlihat begitu berbahaya di permukaan, namun kenyataannya, tumpul.

Apa yang terjadi? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, keterikatan emosional. Karena setiap karakter sipil yang bisa Anda bunuh ini tidak punya latar belakang jelas untuk membuat Anda peduli, menyarangkan peluru ke kepala mereka tidak meninggalkan rasa bersalah apapun di akhir. Kedua? Infinity Ward sendiri, setengah hati.

Ada beberapa momen super brutal yang sebenarnya bisa berujung dengan konsekuensi moral yang lebih berat dan signifikan, namun berakhir “dibatasi” oleh Infinity Ward itu sendiri. Ada dua kasus yang kami temukan, yang membuat kami kecewa. Pertama pada saat Anda bertemu dengan bayi menangis di salah satu misi Raid yang jika Anda tembak, justru akan berakhir dengan layar Game Over.

Scene kedua terjadi di pada saat momen interogasi salah satu tokoh antagonis yaitu Butcher dengan membawa sang anak dan istri di ruangan yang sama dan mengancam mereka dengan senjata api yang berisikan peluru tajam. Jika Anda berakhir membunuh sang anak maka akan Game Over. Jika Anda berusaha menembak kepala sang istri? Ia didesain untuk tidak bisa terluka. Kedua kasus ini menjadi bukti kuat, bahwa terlepas dari semua ucapan dan klaim Infinity Ward ini, mereka masih mempertimbangkan soal potensi kontroversi, aspek bisnis, dan berakhir menentukan apa-yang-boleh-dan-tidak-boleh-dilakukan menurut standar mereka, yang notabene mengkhianati apa yang berusaha mereka kejar.

Setengah hati, Infinity Ward masih membatasi apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan. Yang sayangnya, sebagian besar mempengaruhi momen yang seharusnya lebih penting dan berkesan.

Alasan ketiga yang membuat situasi ini tidak seberapa signifikan. Karena pada akhirnya, alih-alih realistis, kisah perang yang ditawarkan oleh Infinity Ward di Call of Duty Modern Warfare 2019 terasa begitu fiktif dan tidak masuk akal. Kondisi yang tentu saja merenggut mimpi dan klaim soal skenario perang yang relevan. Kita berbicara soal game FPS yang masih menjagokan Amerika Serikat sebagai tokoh protagonis yang sikap buruknya masih dipaksa untuk terjustifikasi, melawan pasukan Russia yang datang sebagai tokoh antagonis dengan sikap dan perlakuan super brutal tanpa belas kasihan ke tawanan perang, yang membuatnya terasa satu dimensional.

Situasi tidak realistis ini juga muncul dari keprbadian salah satu karakter protagonis yang juga sering Anda kendalikan yaitu Alex. Di awal, Alex merupakan “jembatan” Price untuk bernegosiasi dan mengambil hati Farah dan pasukan pemberontaknya. Namun hanya dalam beberapa misi saja, dengan interaksi yang tidak bisa dibilang kuat dan mendalam dengan Farah, Alex yang notabene merupakan pasukan khusus Amerika Serikat tiba-tiba tidak ragu untuk melawan perintah atasannya dan memilih untuk berdiri di bawah bendera Urzikstan.

Rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan pasukan Farah dari kejaran tentara Russia, tanpa ragu. Untuk dua karakter yang hubungannya tidak seberapa dalam, tidak menjalani banyak misi bersama, tidak pernah menyuarakan persahabatan yang kuat, ini adalah sebuah situasi yang tentu saja absurd dan membingungkan di saat yang sama.

Namun setidaknya, kami mengapresiasi pendekatan lebih personal dari sisi misi yang ia tawarkan. Tidak terjebak dengan situasi perang bombastis yang sempat terjadi di Modern Warfare 3, Infinity Ward lebih mendefinisikan seri Reboot ini lewat sensasi Raid yaitu mode sergap di ruang lebih kecil yang menuntut kecepatan reaksi dan presisi tembakan saat Anda memburu target utama Anda.

Bergerak pelan, dari pintu ke pintu, menggunakan NVG untuk memanfaatkan keuntungan strategis dalam kegelapan, bunyi senjata api dengan silencer yang merdu, hingga lubang peluru penuh darah di wajah target tembak Anda memang terasa lebih menggugah. Ini tentu saja pendekatan berbeda dibandingkan seri lawas yang sudah masuk dalam skala perang global penuh pesawat jet, bomb atom, dan tank. Ini adalah arah baru yang kami sambut dengan tangan terbuka.

Tampil Beda

CALL of DUTY MODERN WARFARE PART 2

Salah satu berita terbaik dari kata “reboot” yang digunakan Infinity Ward untuk mendefinisikan seri COD tahun ini adalah fakta bahwa pendekatan baru yang mereka janjikan tidak hanya mengakar pada mode single-player saja tetapi juga mode multiplayer yang di beberapa region, terutama Amerika Serikat, memang menjadi nyawa franchise yang satu ini. Untuk pertama kalinya, dalam periode yang begitu lama, mode multiplayer Call of Duty akhirnya terasa berbeda atau setidaknya, berusaha untuk tampil beda. Ia tidak sekedar mengakar pada perubahan mekanik seperti pengenalan sistem hero ala Black Ops 4 dengan kemampuan spesial mereka masing-masing. Perbedaan ini mengakar pada pengalaman klasik Call of Duty tanpa embel-embel wall running, double jump, serangan ultimate, dan sejenisnya.

Salah satu yang paling signifikan adalah sensasi pergerakan yang kini lebih lambat dan berat, terlepas dari jenis apapun senjata yang Anda bawa. Hal ini membuat dinamika pertempuran di mode multiplayer Call of Duty Modern Warfare 2019 tidak lagi bisa mengandalkan kebiasaan “Run and Gun” di seri-seri sebelumnya. Bahwa strategi untuk terus bergerak dan berlari cepat dari satu target ke target lainnya saat ini justru membuat Anda semakin mudah terbunuh alih-alih menghasilkan performa memesona. Perubahan cita rasa gameplay yang juga didukung dengan perubahan gaya desain peta dan mekanik baru yang disuntikkan.

Berbeda dengan seri sebelumnya yang mengusung peta yang cukup terbuka hingga strategi “Run and Gun” bisa berjalan secara optimal, desain peta mode multiplayer seri teranyar ini, bahkan di mode Team Deathmatch sekalipun, kini dipenuhi dengan ragam objek di beragam sudut yang memang didesain untuk satu hal yaitu bersembunyi.

Hal ini membuat strategi camping menjadi jauh lebih efektif dengan kesempatan yang jauh lebih besar dibandingkan seri sebelumnya. Mekanik ekstra Mount dimana Anda bisa bersembunyi di sudut objek tertentu dan mengintip serta menembak menggunakan senjata Anda secara instan kian mendorong efektivitas strategi ini.

Run and Gun tidak lagi Efektif

CALL of DUTY MODERN WARFARE PART 3

Perubahan yang satu ini tentu saja butuh waktu untuk membiasakan diri, apalagi jika Anda termasuk veteran seri-seri Call of Duty lawas. Strategi untuk sekedar berlari dan menembak sebelum bergerak ke target selanjutnya memang masih bisa dilakukan, namun tidak akan lagi punya banyak kesempatan untuk bisa terus dieksekusi.

Perubahan yang diusung Call of Duty Modern Warfare 2019 kini membuat Anda harus mempertimbangkan opsi untuk berdiam diri di satu lokasi terlebih dahulu, mengamati situasi yang mungkin muncul, sebelum memutuskan untuk bergerak ke lokasi selanjutnya atau tidak. Situasi unik yang bahkan kini mulai terjadi di beberapa mode permainan yang selama ini terkenal cepat sekelas Team Deathmatch dan Domination sekalipun. Kami sendiri menyambut terbuka perubahan ini. Setidaknya untuk pertama kalinya, di luar sekedar menyuntikkan sistem berbasis hero ala Overwatch, sensasi multiplayer Call of Duty akhirnya mulai membentuk jati diri yang baru dan berbeda.

Walaupun demikian, memang harus diakui, ia masih butuh proses balancing lebih jauh, terutama untuk senjata sekelas Shotgun yang pada saat review ini ditulis, punya efektivitas yang bisa dibilang gila. Kesempatan untuk membunuh musuh dengan satu kali tembak, tidak lagi sekedar jarak dekat tetapi juga menengah, membuat Shotgun berakhir menjadi senjata-wajib-bawa di hampir semua situasi pertempuran, membuat Perk untuk membawa dua buah senjata Primary Weapon kini jauh lebih penting daripada sebelumnya.

Dengan banyak ruang sempit, vertikal ataupun horizontal yang bisa dimasuki, dimana pertempuran jarak dekat pasti terjadi, shotgun selalu datang sebagai solusi. Memuaskan jika Anda yang menembakkannya, menyebalkan jika Anda menjadi pihak yang berada di ujung moncong-nya.

Sementara untuk sistem gameplay yang lain, ia masih mengusung sistem lama Call of Duty. Sistem level hadir untuk tidak hanya memperlihatkan seberapa besar pengalaman Anda di mode multiplayer, tetapi juga batu loncatan untuk membuka lebih banyak senjata dan equipment.

Penguasaan terhadap senjata lewat frekuensi penggunaan juga akan membuka lebih banyak item dan equipment untuk membuatnya lebih mematikan, dari sekedar scope hingga grip, lengkap dengan item kosmetik yang ada. Bersama dengan ragam Killstreak yang bisa Anda eksekusi untuk pembunuhan beruntut yang berhasil Anda lakuan, Anda yang familiar dengan sistem COD lawas tetap akan merasa familiar dengan apa yang ia tawarkan.

Salah satu daya tarik utama, yang juga mendukung sensasi usaha untuk tampil berbeda, juga terletak ada ragam mode multiplayer yang ia usung. Selain mode pertempuran skala masif bernama Ground War yang akan kami bahas di sesi selanjutnya, ia hadir dengan banyak variasi yang menarik di luar pengalaman standar yang selama ini Anda kenal. Bagi kami? Primadonanya memang terletak pada dua mode – Gunfight dan Night Playlist.

Lebih ringkas dan lebih padat daripada Team Deathmatch sekalipun, Gunfight merupakan mode pertempuran 2 VS 2 yang dibagi ke dalam beberapa babak. Inti permainan tetap berkisar pada usaha untuk menghabisi tim lawan secepat mungkin, yang posisinya memang akan langsung berhadapan satu sama lain dengan begitu banyak objek untuk bersembunyi di area tengah.

Senjata disediakan dan akan berganti setiap 2 ronde sekali, menghasilkan sensasi pertempuran yang cukup dinamis. Dibandingkan dengan Team Deathmatch, Gunfight memang menawarkan pengalaman yang lebih intens. Memutar strategi, ofensif tetapi tetap berusaha bermain aman sepertinya solusi terbaik. Salah langkah? Anda akan langsung berakhir kalah dengan kesempatan yang kecil untuk meraih balik skor jika tetap berupaya menempuh hal yang sama.

Sementara Night Playlist adalah setting malam untuk ragam peta Modern Warfare Reboot yang kesemuanya didesain dengan pondasi yang sama untuk memanfaatkan NVG sebagai inti permainan. Mengejar realisme dengan tidak menyajikan HUD sama sekali kecuali ikon kecil untuk membantu Anda mengetahui karakter mana saja yang berada di dalam satu tim, ini adalah mode yang memang super seru. Apalagi NVG tidak hanya membantu Anda melihat di dalam gelap, tetapi juga mengenali garis tipis laser yang muncul dari moncong senjata lawan ketika ia tengah membidik target tertentu.

Perang psikologis untuk bergerak sehati-hati mungkin, memerhatikan lingkungan sekitar dengan saksama, serta berusaha bereaksi secepat yang Anda bisa menghasilkan pengalaman bertempur yang intens. Walaupun tidak segila TDM atau DOM, namun kehadiran gameplay NVG ini memang menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda di sebuah seri Call of Duty.

COD Modern Warfare 2019 juga menyediakan sebuah mode kooperatif bernama Spec Ops yang juga dibalut dengan garis ceritanya sendiri. Kami harus mengakui bahwa kami bukan fans berat mode yang satu ini. Sempat menjajalnya dalam proses matchmaking, Spec Ops adalah mode brutal yang akan secara konsisten melemparkan Anda gelombang demi gelombang musuh yang berusaha menghabisi dan mengacaukan objektif Anda.

Mereka datang dari hampir segala penjuru dan menembak Anda dengan akurasi maha dahsyat. Berita lebih buruknya lagi? Kondisi seperti ini membuat komunikasi aktif menjadi esensial, hingga matchmaking tidak terdengar seperti solusi yang rasional. Menjajalnya satu kali dan kami tidak pernah menyentuhnya lagi, bisa jadi karena tingkat kesulitan, preferensi, atau karena fakta bahwa mode lain yang ia tawarkan, memang lebih menggoda.

Maka lewat sensasi pergerakan lebih lambat, desain level dan mekanik baru yang memang lebih mendorong aksi camping daripada “Run and Gun” seperti masa lampau, serta kombinasi beberapa mode yang terhitung inovatif memang membuat pengalaman multiplayer di COD MW 2019 ini terasa sedikit berbeda, tentu saja terletak di mode baru bernama Ground War.

Visualisasi

CALL of DUTY MODERN WARFARE PART 4

Salah satu berita yang paling disambut baik di rilis COD Modern Warfare 2019 ini adalah kepastian implementasi engine terbaru yang pada akhirnya, membuat seri teranyar Call of Duty ini berakhir jauh lebih memanjakan mata daripada seri-seri sebelumnya. Bahwa engine teranyar ini tidak hanya menawarkan kualitas detail yang memesona saja, terutama dari model karakter dan tekstur pakaian atau detail senjata misalnya, tetapi juga permainan efek tata cahaya yang membuat banyak momen kini terasa dan terlihat lebih dramatis. Bahkan cahaya ini menjadi salah satu kunci yang mendefinisikan pengalaman Call of Duty yang lebih dekat dan personal, terutama dari mode single player yang ia usung.

Satu yang menarik, adalah pendekatan cerita dan dramatisasi yang ia lakukan. Bahwa tidak seperti seri-seri Modern di masa lampau dimana sebagian besar sisi cerita disajikan dari perspektif orang pertama, COD: Modern Warfare 2019 ini mengambil pendekatan yang lebih “modern”.

Bahwa porsi cerita kini lebih banyak disajikan via sebuah video cut-scene dengan karakter pre-rendered yang saling berbicara satu sama lain, meninggalkan cita rasa film Hollywood yang lebih kentara. Pendekatan seperti ini sayangnya, sulit untuk kami sambut dengan tangan terbuka. Walaupun dramatisasi kacamata orang pertama dengan in-game engine masih terjadi, kehadiran cut-scene seperti ini seolah merenggut “identitas” Call of Duty, terutama untuk mereka yang sempat menikmati seri lawasnya. Seandainya saja mereka mempertahankan cerita dari sudut orang pertama dan membiarkan briefing misi disajikan dalam bentuk pergerakan peta saja, maka kami akan lebih menyukainya.

Namun di sisi lain, Infinity Ward juga menyuntikkan lebih banyak momen “terbuka” untuk membangun karakter dan menghadirkan animasi-animasi keren. Tidak lagi terkunci di momen yang mungkin lebih identik dengan QTE misalnya, Anda bisa melihat aksi Farah atau Price yang berusaha menundukkan musuh di depan mata dengan ragam gerakan CQC yang ia eksekusi. Tidak lagi terkunci sebagai cut-scene, Anda kini bisa ikut berperan menghabisi mereka dengan menggunakan senjata api Anda dengan cepat dan memutus animasi tersebut. Kekacauan saat aksi teror dan perang yang melibatkan penduduk sipil kini juga disajikan di dalam gameplay dan bukan sekedar cut-scene. Sebuah strategi untuk “memicu” proyeksi citra perang lebih realistis dan gelap yang akan kita bicarakan di sesi selanjutnya.

Sementara dari sisi suara, tidak ada yang perlu diragukan. Desain tata suara, dari suara tembakan dari senjata yang berbeda-beda hingga sekedar derap kaki yang Anda dengar di mode single-player dan multiplayer tentu akan menawarkan pengalaman bermain imersif sekaligus clue untuk membangun kewaspadaan lebih baik soal apa yang tengah terjadi di sekitar. Sementara dari sisi musik, kami tidak mendapatkan sesuatu yang sepenuhnya memorable. Musik yang diusung memang cocok untuk membangun atmosfer yang ada, namun tidak cukup kuat berakhir di playlist akun Spotify Anda misalnya.

Maka dari sisi presentasi, kualitas visualisasi yang diklaim Infinity Ward dan Activision akan lebih baik di COD: Modern Warfare Reboot ini berkat implementasi engine teranyar memang terbukti. Dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya, terutama di mode single-player, detail yang ia tawarkan terutama dari sisi tata cahaya memang memesona. Sayangnya, dari mode multiplayer, ia masih menawarkan sensasi multiplayer seklasik yang Anda bayangkan. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari sisi presentasi, seperti kehancuran karena senjata berat dan sejenisnya di sini.

Sejak awal ia diperkenalkan, Infinity Ward terus mendengungkan klaim soal bagaimana Modern Warfare 2019 ini akan menawarkan cita rasa perang yang lebih realistis dengan tema yang lebih relevan.

Tentu menggembirakan untuk melihat mode single player Call of Duty kembali di tangan Infinity Ward, yag memang digadang sebagai peracik cerita terbaik dari tiga developer yang bergabung dalam siklus rilis franchise yang satu ini. Apalagi di tahun sebelumnya, Treyarch bahkan membuang total mode ini untuk menghasilkan seri Call of Duty yang sepenuhnya multiplayer dengan battle-royale yang menjadi daya tarik utama.

Dengan nama Modern Warfare yang ia bawa, Infinity Ward mendorong narasi yang menarik. Bahwa di seri reboot ini, mereka hendak merepresentasikan perang yang lebih “abu-abu” dimana tidak ada pihak yang benar-benar jahat ataupun baik mengingat ragam kepentingan yang mereka bawa. Mereka juga ingin memotret betapa destruktifnya perang untuk kehidupan mereka yang sebenarnya, tidak mengangkat senjata.

Ground War

PART 5

Berapa banyak dari Anda yang sempat memainkan seri Battlefield di masa lalu dan berharap bahwa Call of Duty di satu titik akan mengekor hal yang sama? Bahwa tidak lagi terbatas pada arena pertempuran sempit nan terbatas yang terkunci pada pertempuran jarak dekat, gamer Call of Duty akhirnya bisa menikmati perang dalam skala luas yang epik lengkap dengan kesempatan untuk menggunakan beragam kendaraan perang berbeda. Berita baiknya? Hal tersebut akhirnya diwujudkan oleh Infinity Ward dalam sebuah mode yang disebut Ground War – mode perang yang bisa memuat 32vs32 dalam mode Domination 5 bendera di peta yang luas, secara horizontal ataupun vertikal.

Sebagai usaha perdana untuk mempresentasikan perang dalam skala lebih luas, Ground War memang terasa seperti sebuah seri “Battlefield” namun dengan keluwesan gerak dan sistem recoil Call of Duty yang familiar. Bedanya? Alih-alih meniru dan menyalin semua hal yang berhasil dilakukan DICE dengan Battlefield, Infinity Ward memutuskan untuk mempertahankan jati diri seri Call of Duty di dalamnya.

Pertama? Ia tidak punya sistem peran layaknya Battlefield. Walaupun Anda akan otomatis bergabung dalam tim 4 orang untuk kerjasama lebih baik dan pada akhirnya, beacon respawn yang lebih efektif untuk merebut titik point yang ada, tidak ada pembagian peran di sini. Tidak ada Medic untuk proses healing dan revive, tidak ada pula Engineer untuk proses perbaikan kendaraan perang misalnya. “Peran” dan efektivitas Anda sepenuhnya bergantung pada Loadout seperti apa yang Anda bawa, yang untungnya tetap bebas dan bisa Anda gonta-ganti kapanpun Anda menunggu waktu respawn yang tersedia.

Kedua Tidak ada level kehancuran bangunan seperti Battlefield. Ini berarti Anda tidak akan bisa menembakkan meriam tank ke sebuah bangunan dengan harapan tim musuh akan kehilangan tempat untuk camping para sniper, misalnya. Semua senjata yang harusnya destruktif, dari granat hingga RPG sekalipun memang memicu physics yang biasanya berkisar pada gerak benda-benda kecil seperti batu atau meja yang sekedar terlempar. Namun struktur bangunan-nya sendiri akan selalu utuh.

Ketiga Terlepas dari tank dan helikopter yang Anda gunakan, tidak ada pertempuran udara super epik dengan pesawat misalnya. Namun tentu saja menilai Call of Duty dan membandingkannya dengan Battlefield dari sisi fitur dan gameplay bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Karena harus diakui, jika hanya menilai Ground War sebagai “inovasi” yang disuntikkan Infinity Ward untuk akhirnya membawa pengalaman multiplayer Call of Duty ke level yang tinggi, ia berhasil melakukan tugas tersebut dengan baik.

Terus bertempur memperebutkan satu point demi yang lain, lari dari kejaran tank yang tak sulit membidik dan memburu Anda, hingga memainkan level vertikalitas dari begitu banyak bangunan yang bisa disinggahi untuk keuntungan strategis, memang menghasilkan pengalaman yang belum pernah Anda temui di Call of Duty manapun.

Kesimpulan

Harus diakui, apa yang dilakukan Infinity Ward dengan seri teranyar ini memang membuatnya pantas menyandang nama Modern Warfare, sebuah nama yang melekat dengan memori positif di hati banyak gamer. Butuh penyempurnaan untuk membuat seri kelanjutan dari cerita reboot ini berakhir lebih kuat dan berkesan, tetapi di sisi yang lain, Anda bisa memahami bahwa hati dan ambisi mereka sudah berada di tempat yang tepat.

Ada begitu banyak klaim yang dilontarkan Infinity Ward untuk Call of Duty Modern Warfare 2019, dari janji untuk menawarkan cita rasa perang lebih relevan, kualitas visualisasi yang lebih memesona, hingga beragam kondisi yang kabarnya akan menguji kompas moral gamer dan membiarkan mereka “menelan” konsekuensi yang ada.

Terlepas dari berapa banyak hal tersebut yang terbukti dan memang tereksekusi manis, sulit rasanya untuk tidak mengakui bahwa jelas untuk seri tahun ini, Infinity Ward memang berusaha menawarkan sesuatu yang berbeda. Ada beberapa hal baru yang membuat kami jatuh hati dari implementasi mode multiplayer baru seperti Gunfight dan Night Playlist, cut-scene yang secara lugas memperlihatkan para korban sipil yang cukup membuat hati terenyuh, sensasi pertempuran yang lebih personal dan lambat, hingga kualitas visual yang lebih baik. Ada banyak hal baru dan peningkatan yang ia usung.

Namun di sisi lain, juga sulit untuk menyangkal bahwa tidak segala sesuatunya bekerja sebaik dan semenarik yang dijanjikan Infinity Ward. Contoh sederhana? Masalah pilihan aksi yang terus digembar-gemborkan akan menggelitik moral Anda, misalnya. Karena pada akhirnya, beberapa aksi yang seharusnya punya konsekuensi super berat seperti secara sadar membunuh bayi atau anak kecil atas nama “menggapai” misi Anda justru dibatasi oleh Infinity Ward dengan layar “Game Over” sebagai konsekuensi. Ini berarti Infinity Ward tidak memberikan ruang dan kesempatan untuk memproyeksikan ragam skenario perang yang bisa terjadi atas nama melindungi diri dari kontroversi yang bisa terjadi. Sesuatu yang sangat disayangkan. Kelemahan ini juga melebur dengan beberapa point yang kami bicarakan di atas.

Tetapi harus diakui, apa yang dilakukan Infinity Ward dengan seri teranyar ini memang membuatnya pantas menyandang nama Modern Warfare – sebuah nama yang melekat dengan memori positif di hati banyak gamer. Butuh penyempurnaan untuk membuat seri kelanjutan dari cerita reboot ini berakhir lebih kuat dan berkesan, tetapi di sisi yang lain, Anda bisa memahami bahwa hati dan ambisi mereka sudah berada di tempat yang tepat.

Kelebihan

  • Masih Price yang Anda kenal.
  • Kualitas visualisasi memesona
  • Price masih terasa Price yang selama ini Anda kenal
  • Presentasi konsekuensi perang yang brutal dan lugas Sensasi multiplayer terasa baru dan berbeda
  • Mode seperti NVG dan Gunfight ternyata asyik
  • Ground War memenuhi mimpi dasar gamer yang menginginkan perang skala besar
  • Misi Raid berhasil menghadirkan cita ras intens

Kekurangan

  • Karakter pasukan khusus yang menolak perintah atasan setelah beberapa misi
  • Cerita terasa tidak relevan dan realistis
  • Rusia berakhir jadi tokoh antagonis “satu dimensi”
  • Spec Ops sulit ditangani dengan sekedar matchmaking
  • Momen yang harusnya menghantui moral justru dilindungi dengan layar Game Over
  • Cut-scene orang ketiga yang terasa menggerus identitas Modern Warfare
  • Desain beberapa peta multiplayer terlalu mendorong camping sebagai solusi
  • Cocok untuk gamer: yang mencintai Call of Duty Modern Warfare masa lampau, menginginkan game FPS multiplayer kompetitif yang menyenangkan

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here