Review Code Vein

1
129
5/5 (11)

Jagoangame.com – Code Vein adalah sebuah game action RPG terbaru besutan Bandai Namco dan developer Shift yang sempat mengalami penundaan rilis. Game ini akan dirilis di Playstation 4, Xbox, dan PcDaripada mendapat sambutan hangat seperti yang diharapkan, game ini justru berakhir mendapat resepsi negatif dari sebagian besar media yang sudah mengulas game ini.

Jagoan Game sendiri memang tidak memiliki ekspektasi tinggi pada Code Vein, namun implementasi beberapa fitur menarik serta sensasi gameplay yang sudah Jagoan Game rasakan sudah cukup meninggalkan impresi yang cukup kuat.

Di awal proses pengembangan, setidaknya dari citra yang mengemuka dari sisi gameplay, ada kesan yang kuat bahwa game terbaru Bandai Namco ini memang hendak menawarkan cita rasa Souls like yang kental, namun dengan visualisasi dan cerita yang lebih mengarah pada anime.

Selama proses pengembangan berjalan, yang juga diikuti dengan beberapa kali berita penundaan, kesan tersebut sama sekali belum bergeser. Setelah penantian yang cukup lama, kesempatan untuk menjajal versi finalnya akhirnya tiba! Code Vein akhirnya tersedia di pasaran.

Sebelum memulai permainan, Code Vein memungkinkan kamu untuk membuat avatar sendiri lewat sistem character creation yang cukup kompleks. Fitur ini menawarkan segudang opsi kustomisasi yang keren, namun fitur ini sayangnya hanya dibatasi pada sisi desain dan tidak mencakup proporsi tubuh.

Setelah membuat karakter dan memberinya nama, kamu akan dihadapkan pada sesi tutorial kecil yang memperkenalkan sistem Blood Code dan gameplaynya yang nanti akan Jagoan Game bahas lebih dalam.

Plot Cerita

Di dunia Code Vein, manusia baru saja dihajar dengan sebuah fenomena misterius yang membuat banyak monster lahir ke dunia dan menghancurkan segala sesuatunya.

Tidak berkutik untuk mengatasinya, umat manusia yang terdesak pun mau tidak mau harus mengambil jalur yang tidak biasa, yaitu dengan mengembangkan sebuah parasit yang tidak hanya membangkitkan mereka yang tewas saja, tetapi juga membuat mereka lahir sebagai manusia lebih sempurna dengan kekuatan yang luar biasa. Sesuatu yang disebut sebagai Revenant.

Code Vein mengambil setting di sebuah dunia yang dilanda bencana besar dan menyisakan banyak Revenant yang berjuang untuk bertahan hidup dengan mendapatkan darah. Revenant sendiri adalah orang mati yang kembali hidup akibat terinjeksi parasit BOR selama beberapa tahun, dan satu-satunya sumber daya yang mereka perlukan untuk bertahan hidup adalah dengan meminum darah, baik itu berasal dari manusia atau dari semacam buah bernama Blood Bead. Karakter utama yang kamu kendalikan sendiri adalah seorang Revenant yang baru saja bangkit dan didampingi gadis misterius bernama Io. Sama seperti karaktermu, dia tidak memiliki ingatan apapun dan hanya sadar akan tugasnya untuk berada disampingmu.

Revenant sendiri memiliki sifat tak ubahnya Vampire. Bahwa di luar semua kemampuan khusus mereka yang bisa digunakan untuk melawan makhluk-makhluk ini, mereka butuh darah untuk menghindari kondisi Frenzy yaitu sejenis kegilaan yang justru akan mengubah mereka menjadi monster bernama The Lost.

Semua itu membuat Revenant menjajah manusia agar mendapatkan supply konstan darah untuk makanan serta berjuang untuk mencari item bernama Blood Beads yang tumbuh di pohon berwarna putih nan unik di sekitar dunia yang kini sudah hancur tersebut. Para Revenant juga bisa keluar dari zona mereka saat ini karena sebuah kabut merah yang mengelilingi, siap untuk menghancurkan siapa saja yang berusaha melewatinya.

Tidak lama setelah bangkit, karaktermu dan Io bertemu dengan kelompok Revenant yang kemudian menjadikanmu bawahan secara paksa. Tidak lama setelah menjalani tugas pertama sebagai pemburu darah, kamu akan bertemu dengan kelompok Revenant lain yang dipimpin oleh Louis.

Berbeda dari Revenant lainnya, Louis dan kelompoknya memiliki tugas mulia untuk meneliti sumber Bloodspring yang kemungkinan menyimpan banyak sumber daya yang dibutuhkan para Revenant di seluruh Vein untuk bertahan hidup. Dari sinilah petualanganmu bersama kelompok Louis dimulai, dimana kamu akan bertemu dengan lebih banyak karakter menarik, tantangan baru dan rahasia mengejutkan dari bencana Thorns of Judgement yang sesungguhnya.

Tidak seperti seri Soulsborne yang menghadirkan cerita implisit sudah dicerna, cerita Code Vein jauh lebih eksplisit dan terbuka. Tak hanya desain para karakter saja, namun cerita yang tersaji juga terasa “anime” banget, ini tentu merupakan hal yang segar dalam dunia souls-like. Dan harus kami akui, presentasi cerita dan karakter yang ada terbangun dengan sangat menarik.

Tiap karakter yang ada punya backstory tragisnya masing-masing, yang kesemuanya tak jarang menggugah rasa emosional. Seperti Luis dengan kakanya, Yakumo dengan adiknya, hingga Mia dengan adiknya, tiap latar belakang karakter terasa selalu saja menarik untuk digali lebih jauh. Ini membuat Code Vein tak hanya berfokus pada misi kedamaian dunia semata, namun juga kisah persahabatan, percintaan, dan kekeluargaan.

Tak hanya para protagonis, antagonis sekalipun punya latar belakang cerita yang kuat atas tindakannya di dalam cerita. Namun sayangnya, meskipun para NPC punya latar belakang menariknya masing-masing, tokoh utama yang kita gunakan justru merupakan silent protagonist. Dimana ia tak punya latar belakang yang menarik, tak bisa berbicara, dan tak punya kepribadian. Sangat disayangkan, tentnya akan menarik bila tokoh utama juga punya kepribadian dan latar belakang yang tak kalah menarik dengan para NPC.

Gameplay

Familiar, Namun Terasa Jauh Lebih Bersahabat
Secara keseluruhan, mekanik gameplay yang hendak ditawarkan oleh Code Vein terlihat sangat familiar dengan seri Soulsborne, terutama Dark Souls. Mengingat ini adalah game bergenre souls-like.

Code Vein merupakan sebuah judul souls-like ringan yang terasa jauh lebih bersahabat dengan pendatang yang baru mulai terjun di genre ini. Bagi kalian yang familiar dan pernah mencicipi seri Soulsborne sebelumnya, tentu tak butuh banyak penyesuaian lagi.

Disini mata uang ala souls berjuluk “haze”. Menghabisi tiap musuh yang ada ataupun meredeem item lost haze akan memberikan kalian tambahan mata uang tersebut. Tentu, jika kalian terbunuh, semua haze akan tergeletak di tempat terakhir kalian mati. Disini juga ada mekanisme ala bornfire yang berjuluk “mistle”, fungsingya hampir sepenuhnya sama. Dimana setelah diaktifkan, mistle dapat menjadi tempat checkpoint, revive, fast travel, dan memanage item.

Baca Juga : Review eFootball PES 2020

Penyembuhan ala estus flask juga hadir disini dan juga punya mekanisme serupa pula, item tersebut berjuluk “regeneration”. Jika estus flask membutuhkan bone shard dan estus shard untuk meningkatkan kemampuan penyembuhan dan menambah kapasitas, regeneration membutuhkan regen extension dan regen activator untuk diupgrade. Tentunya regen extension dan regen activator tersebar di sepanjang map petualangan dan menunggu untuk ditemukan.

pertarungannya yang juga berjalan taktis, ini tetaplah sebuah judul souls-like, dimana kalian tetap dituntut untuk selalu berhati-hati dalam menghadapi musuh. Alih-alih hanya sekedar menyerang membabi buta, kalian harus sering kali menjaga jarak dan menghindari serangan. Mekanisme backstab juga hadir dalam game ini, jika kalian berhasil memberikan sebuah serangan presisi di belakang musuh, maka akan memberikan daya damage yang cukup masif. Tak hanya itu, gerakan seperti parry juga hadir, seperti backstab, gerakan tersebut akan memberikan animasi khusus yang diikuti damage super masif pada musuh.

Untuk sistem pertarungannya sendiri, kami merasa game ini lebih dominan ke perpaduan gaya Bloodborne. dengan sedikit bumbu ala God Eater. Kalian tak bisa mengakses perisai sebagai alat bantu defensif, namun sebagai gantinya, kalian tetap bisa menangkis serangan dengan senjata yang kalian gunakan. Selain itu, tiap pertarungan yang hadir terasa lebih cepat, lengkap dengan berbagai ability khusus yang dapat kalian gunakan. Mulai dari menembakan proyektil, membangun pelindung, hingga memerikan buff, kesemua ability terlihat menarik dan menunggu digali dalam sistem class.

Akan ada banyak class yang menyimpan banyak ability menarik yang bisa kalian sesuaikan dengan gaya bermain. Setidaknya ada 34 class yang bisa kalian gunakan, class tersebut disini disebut sebagai Blood Codes, dan kesemua Blood Codes tersebut harus kalian unlock satu persatu. Ada banyak cara untuk mengunlocknya, mulai dari sekedar menemukannya tergeletak sebagai item di jalan, meminta pada rekan seperjuangan, hingga mengalahkan boss fight.

Selain ability khusus, tentu senjata utama jadi equipment yang labih penting, dan variasinya sendiri bisa dibilang cukup banyak, mulai dari One-Handed Swords, Two-Handed Swords, Spears, Halberds, Hammers, hingga Bayonet Rifles. Kesemuanya tersebut dapat diupgrade dengan material-material tertentu, mulai dari sekedar menaikan rank hingga menyematkan elemen. Tak hanya senjata, pakaian pun juga dapat mendapatkan upgrade serupa.

Namun yang cukup membedakan adalah, dimana peran pakaian tidaklah berbentuk “part”, tetapi langsung dalam bentuk outfit. Kalian tak akan menemukan aksesoris, sepatu, pelindung lengan, dan armor sebagai equipment secara terpisah, karena equipment pakaian yang tersedia langsung dalam bentuk sebuah outfit. Cukup disayangkan mengingat banyak yang cukup antisipasi dengan trend “fashion souls”. Dimana dalam menghadapi berbagai tantangan player bisa menentukan seperti apa equipment pakaian unik yang akan mereka kenakan.

Namun sebagai gantinya, saat berada di base utama, kalian bisa tampil dengan berbagai aksesoris maupun pakaian yang kalian inginkan. Hal tersebut juga semakin ditunjang dengan sistem kustomisasi karakter yang dapat kalian akses kapanpun juga. Tentunya cukup menyenangkan untuk mengkreasikan “waifu” yang paling sesuai dengan selera kalian. Bisa dibilang, sistem kustomisasi ini terlihat sangat beragam dan tak pernah terlihat membosankan untuk selalu kembali diakses.

Berbicara tentang souls-like, tentu tak lengkap rasanya bila tak membicarakan tentang tingkat kesulitannya sendiri. Saat pertama kali diumumkan, salah satu pertanyaan terbesar pada Code Vein adalah, “Apakah game ini bisa menyaingi tingkat kesulitan Soulsborne?”. Dengan pertanyaan tersebut, sayangnya kami harus menjawab “tidak”, Code Vein terasa jauh lebih ringan dan bersahabat jika harus dibandingkan dengan franchise racikan From Software tersebut.

Ada beberapa alasan yang membuat Code Vein terasa labih bersahabat untuk gamer yang baru terjun di dunia souls-like. Pertama, disini aksi kalian tak akan sendirian, dimana kalian nantinya akan ditemani seorang AI yang bisa kalian pilih di home base. Tak bisa diremehkan, kekuatan dan kecerdasan para AI yang ada sering kali menolong kalian dalam keadaan genting. Bahkan saat kalian telah terbunuh, AI dapat mengorbankan sebagian healthnya untuk bisa membangkitkan kalian kembali.

Ada pilihan co-op dimana kalian dapat memanggil player lain untuk membantu kalian menyelesaikan misi di dunia kalian sendiri. Lalu yang kedua, para musuh non-boss dapat dengan mudah terkena efek stager, artinya, disaat kalian terlebih dulu melakukan serangan pada musuh, maka secara otomatis serangan musuh yang hendak terpicu akan langsung terbatalkan. Bahkan musuh yang berukuran cukup besar pun juga dapat terkena efek stagger dengan mudah.

Dan yang terakhir, datang dari aspek krusial seperti boss fight, salah satu daya tarik utama seri souls-borne memang berasal dari boss fight yang menantang. Namun sayangnya Code Vein tak cukup mampu memuaskan hasrat para pemain yang haus akan tantangan melalui aspek krusialnya tersebut. Deretan boss fight yang ada harus diakui tampil dengan desain keren dan sangat “mengintimidasi”, namun tetap tak cukup tangguh untuk membuat kami bertekuk lutut, menggaruk-garuk kepala, dan mengeluhkan rasa frustasi.

Harus diakui memang tiap boss fight yang hadir masih punya tantangan, namun hanya membutuhkan satu sampai tujuh kali percobaan saja untuk ditundukan. Beberapa boss bahkan hanya membutuhkan sekali percobaan atau “first try” saja untuk ditundukan. Patern yang mudah ditebak dan kesempatan grinding yang cukup cepat serta beberapa alasan yang kami sebutkan diatas tadi jadi faktor utama mengapa boss fight terasa kurang “menyiksa”. Namun tetap saja, bagi kalian yang baru pertama kali terjun ke dunia souls-like, maka Code Vein akan tetap memberikan tantangan yang cukup menggugah.

Selalu dihadapkan dengan pertarungan yang membentang di sepanjang cerita, tentu cukup melelahkan rasanya. Oleh sebab itu Bandai Namco sedikit menyuntikan elemen “fan service” pada game racikannya ini. Dimana kalian dapat berendam air panas bersama dengan para companion dan Revenant lainnya. Menariknya lagi, fitur berendam tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk mengambil kembali setengah haze kalian yang tergeletak entah dimana setelah kalian mati.

Soundtrack Code Vein

Soundtrack tentu merupakan salah satu aspek paling krusial dari sebuah game, apalagi bila itu merupakan fantasy RPG. Untuk membalut tiap atmosfir yang ada tentu dibutuhkan soundtrack yang apik didalamnya. Dan untungnya, melalui Code Vein Bandai Namco berhasil mewujudkan hal tersebut.

Ada banyak soundtrack keren yang akan mengiringi petualangan kalian, dan harus diakui, kesemuanya tampil sangat pas dan menggugah. Tiap momen yang ada mampu dibalut dengan soundtrack yang pas, aksi intens melawan boss battle yang ada, kalian akan dihadapkan dengan soundtrack menggugah yang siap memacu adrenalin ke tingkat tertinggi. Bagitu pula dengan ragam scene emosional dalam cerita yang ada, juga akan dibalut dengan soundtrack sendu penuh emosi yang akan menggugah hati.

Memang tak sebanyak dan se-epik apa yang dihadirkan From Software melalui seri Soulsbornenya. Namun dalam Code Vein ini Bandai Namco tetap mampu menunjukan bahwa salah satu daya tarik utama dari souls-like tetaplah pada deretan soundtracknya yang menggugah. Dan beberapa soundtrack yang paling kami favoritkan, telah kami sematkan melalui review kali ini.

Visual Code Vein

Tampaknya sudah jadi rahasia umum bila Unreal Engine memang jadi senjata utama Bandai Namco untuk membangun deretan gamenya. Basis visual Unreal Engine memang terasa lebih fleksibel untuk diaplikasikan, mulai dari 2,5d, kartunis, hingga realis bisa diciptakan melalui Engine tersebut. Dan dengan pondasi Unreal Engine, Bandai Namco mampu mempresentasikan visual khas anime yang terlihat sesuai.

Perpaduan visual 2D anime plus 3D mampu dipresentasikan dengan sangat matang. Tiap aspek visual yang tersaji, mulai dari texture, environment, shadow, lighting, fog, reflection dan lain sebagainya mampu disuguhkan dengan indah. Segala atmosfir dan keindahan dunia yang tersaji mampu dibalut dengan presentasi visual yang apik. Sebagai buktinya? kalian bisa melihat deretan screenshot yang telah kami abadikan dalam review kali ini.

Salah satu yang juga cukup kami apresiasi adalah, dimana Bandai Namco telah belajar di beberapa gamenya yang gagal dengan pondasi Unreal Engine. Seperti Jump Force dan One Piece World Seeker di tahun ini misalnya, dimana keduanya menghadirkan para karakter dengan mimik muka bak robot yang tak punya ekspresi. Dan melalui Code Vein, mereka mampu memberikan yang jauh lebih baik, bersama dengan ekspresi tiap karakter kini terlihat “lebih manusiawi” melalui presentasi visual yang ada. Texture dan mimik muka para karakter tak jarang mampu membawa kami jatuh pada rasa emosional di tiap scene yang tersaji.

Peleburan tema anime dengan genre souls-like, menjadikan Code Vein tampil beda dan segar diantara game souls-like lainnya. Pondasi khas anime yang unik, cerita super menarik, desain para karakter yang keren, hingga gameplay yang solid menjadikan Code Vein punya identitasnya sendiri. Penundaan perilisan selama lebih dari setahun terbayar manis, Code Vein mampu tiba di genggaman dengan kualitas terbaik jika dibandingkan dengan beberapa game Bandai Namco lainnya yang juga hadir di tahun ini.

Tentu tak sepenuhnya sempurna, Code Vein masih punya beberapa kekurangan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Mulai dari masalah framerate yang seringkali dijumpai, hingga masalah terhadap predikat “souls-like”nya sendiri. Kurangnya tantangan yang siap mendorong rasa frustasi ke tingkat tertinggi memang terlihat seperti pedang bermata dua. Tak mampu memuaskan para gamer yang haus akan siksaan, namun disisi lain, hal tersebut membuatnya lebih terasa lebih”bersahabat” dengan para gamer yang lebih casual.

Namun dibalik beberapa kekurangan tersebut, Code Vein tetaplah sebuah souls-like yang fresh dan harus kalian cicipi sendiri. Terlepas dari kalian yang memang sudah “veteran”, maupun yang baru terjun di dunia souls-like sekalipun. Tentunya bagi kalian Wibu yang gemar akan unsur anime kental yang dibalut dengan unsur souls-like yang lebih ringan dan tak terlalu menyiksa, maka Code Vein adalah jawaban pasti akan pertanyaan tersebut.

Desain boss

Jika ada satu hal yang kami sukai dari sisi presentasi ini, maka ia akan mengakar pada desain ragam efek visual yang muncul, baik ketika Anda mengayunkan begitu banyak varian senjata yang tersedia, semburan darah yang terjadi saat pukulan Anda melukai musuh, hingga sekedar animasi serangan dari skill yang bisa Anda picu. Ia meninggalkan kesan kuat bahwa dunia dimana Anda tengah berdiam ini, memang begitu terobsesi pada darah dan seberapa pentingnya ia dalam kehidupan. Desain para Revenant, cut-scene pendek saat Anda mengeksekusi serangan, desain monster dan boss yang Anda temui, berkontribusi memperkuat atmosfer dan tema dunia Code Vein yang ada.

Maka dari sisi presentasi, Code Vein sepertinya datang dengan target pasar yang jelas. Ia berusaha menangkap sebuah game action RPG bercita rasa Souls-like namun dengan pendekatan anime yang jauh lebih kuat dari sisi visual, audio, hingga ragam fan-service yang ia usung. Wibu Souls? Waifu Souls? Anda bebas memilih salah satu di antaranya dan alih-alih terkesan “menghina”, pilihan ini akan mendefinisikan Code Vein dalam kapasitas yang seharusnya dan selayaknya.

Blood Veil, Blood Code, Dan Blood Gift

Darah memang menjadi tema utama, Code Vein. Banyak dari Anda yang mungkin datang dengan satu pertanyaan yang sama terkait Code Vein – apa yang membuatnya berbeda dengan Dark Souls ataupun seri Souls-like yang lain? Di luar sisi presentasi yang sudah kita bicarakan sebelumnya, hampir keseluruhan mekanik gameplay yang diusung Code Vein memang hadir dengan keunikannya sendiri. Kesemuanya berpusat pada tema yang memosisikan Revenant yang tampil tak ubahnya Vampire dengan darah sebagai makanan, fokus, dan nyawa itu sendiri.

Maka di sepanjang permainan, Anda akan menemukan begitu banyak hal yang direferensikan dengan kata “Blood” alias darah, bahkan di mekanik gameplay utamanya sendiri. Sebagai contoh? Blood Veil – yang bisa disederhanakan sebagai armor yang akan Anda temukan saat proses eksplorasi. Setiap Blood Veil akan hadir dengan status uniknya sendiri, yang bisa jadi menguatkan Anda di satu sisi tetapi juga mengorbankan sisi yang lain. Ada Blood Veil yang membuat Anda mampu membuat Anda bergerak dan menyerang lebih cepat misalnya, namun punya kapasitas daya tampung minim yang membuat Anda sulit untuk menggunakan senjata yang lebih berat. Atau Blood Veil yang berfokus untuk membuat Anda tahan banting melawan serangan-serangan magic berbasis elemen, namun payah ketika harus bertahan dari serangan fisik.

Blood Veil adalah istilah untuk armor yang Anda kenakan, yang tentu saja bisa Anda gonta-ganti. Sementara Blood Gifts mengacu pada skill pasif dan aktif yang bisa Anda bongkar pasang dan gunakan.
Sistem lain yang ditawarkan adalah Blood Gifts, yang notabene tak ubahnya sistem skill itu sendiri. Akan ada dua kategori terpisah yang bisa Anda pasangkan untuk karakter Anda yaitu Blood Gifts yang bersifat pasif dan aktif.

Yang pasif tentu saja akan berperan tak ubahnya buff yang akan senantiasa memperkuat karakter Anda, dari menambahkan status tertentu hingga membuat item regenerasi kini bisa memulihkan HP dalam jumlah yang lebih besar. Sementara Blood Gifts aktif berperan tak ubahnya skill yang harus Anda picu sendiri, yang bisa hadir dalam serangan spesial atau buff non-permanen yang hadir dengan beragam efek berbeda. Untuk Blood Gifts aktif ini, Anda harus mengorbankan resource bernama Ichor. Ichor akan bisa memulih bersama dengan banyaknya serangan biasa yang masuk atau lewat sistem serap darah yang bisa Anda picu. Jumlah Ichor yang bisa Anda bawa juga bergantung pada Blood Veil mana yang Anda kenakan.

Blood Code berperan tak ubahnya sistem kelas di game RPG, memainkan peran penting di Code Vein. Tidak hanya mempengaruhi jenis Gifts apa yang bisa Anda akses, Blood Code juga mempengaruhi atribut karakter.

Namun dari kesemua sistem Blood yang ditawarkan Code Vein, Blood Code adalah yang paling penting dan esensial untuk membentuk identitas game yang satu ini. Memenuhi narasi bahwa karakter utama Anda bisa menyerap darah karakter lain dan mengadopsi kemampuan mereka, Blood Code memang tampil tak ubahnya sistem Jobs di game RPG kebanyakan. Anda bisa menggonta-ganti Blood Code sesuka hati, yang masing-masing akan menawarkan penambahan status berbeda-beda, fokus pada jenis serangan spesifik, dan serangkaian Blood Gifts unik yang bisa Anda eksekusi nantinya. Beberapa Blood Code akan Anda temukan dari cerita, namun tidak sedikit pula yang meminta Anda untuk melewati proses eksplorasi terlebih dahulu sebelum bisa digunakan.

Maka, dari sisi gameplay, Anda sepertinya sudah bisa memprediksi pengalaman seperti apa yang Anda dapatkan. Melawan musuh-musuh menantang yang datang dengan tingkat kesulitan dan kuantitas yang merepotkan, Anda akan terus bertarung dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang memang, terhubung dalam satu dunia yang besar. Seperti halnya bonfire di seri Souls, Anda juga akan menemukan “tempat aman” bernama Mistle yang tersebar. Ada dua jenis Mistle di game ini – yang memang menjadi tempat peristirahatan dimana Anda bisa meregenerasi item penyembuh, memperkuat karakter Anda, atau melakukan teleportasi ke tempat lain dan Mistle kecil yang hadir sekedar sebagai pembuka peta belaka tanpa ada kesempatan untuk interaksi lebih lanjut. Menemukan Mistle selanjutnya selalu akan jadi prioritas untuk memastikan progress Anda tidak sia-sia.

Lewat setiap pertarungan yang Anda lewati, Anda akan mendapatkan resource bernama Haze yang berperan tak ubahnya Souls di Dark Souls. Haze yang jumlahnya akan semakin menebal seiring dengan tingkat kesulitan musuh ini akan bisa digunakan untuk menaikkan level karakter yang ternyata bisa menembus lebih dari angka 100. Haze juga bisa digunakan untuk membuka Blood Gifts dari masing-masing Blood Code (semoga Anda masih bisa mengikuti istilah-istilah ini) yang memang menuntut jumlah Haze tertentu. Ada pula kebutuhan Haze dalam angka spesifik dan sebuah item material tertentu bernama “Activator” jika Anda ingin menguasai Blood Gift-nya ini hingga maksimal. Keuntungannya adalah kesempatan untuk menggunakan Gift yang sudah Anda kuasai ini walaupun Anda berganti Blood Code nantinya.

Haze tetap menjadi faktor resiko paling tinggi jika Anda berhadapan dengan kematian. Haze akan jatuh di lokasi terakhir Anda mati dan harus diambil kembali jika Anda menginginkan kesemuanya kembali. Namun jika Anda tewas lagi sebelum mencapai Haze tersebut, maka ia akan hilang secara permanen. Berita baiknya? Code Vein juga menyediakan satu mekanisme baru yang untungnya, sedikit meminimalisir resiko tersebut, yakni permandian air panas.

Selain fan-service, berendam di permandian ini akan memungkinkan Anda untuk mengumpulkan kembali Haze yang terjatuh di lokasi manapun. Namun sebagai gantinya, Anda akan kehilangan setengah dari total Haze tersebut secara permanen. Opsi yang tentu lebih rasional untuk ditempuh jika ia memang terjatuh di arena pertarungan boss atau lokasi yang memang sulit untuk ditundukkan.

Tak sekedar fan-service, mandi air panas juga akan memungkinkan Anda mengambil kembali setengah Haze yang terjatuh di lokasi manapun di dunia Code Vein.

Akan ada beberapa NPC yang tersebar dengan ekstra misi untuk diselesaikan. Reward tertinggi yang bisa mereka tawarkan adalah MAP, yang akan membuka akses untuk dungeon ekstra yang disebut Depths.

Maka seperti halnya seri Souls, progress cerita juga akan bergerak dari satu pertarungan boss ke pertarungan boss lainnya, hingga Anda bertarung melawan sang raja di akhir. Namun Code Vein juga menyematkan ragam misi sampingan yang bisa Anda tempuh lewat para NPC yang tersebar di area-area yang sudah Anda bersihkan sebelumnya.

NPC-NPC ini akan hadir dengan permintaan khusus, dari menemukan item hingga membersihkan area spesifik. Reward item dan material menjadi motivasi, namun yang terpenting justru datang dari item bernama MAP. Reward item bernama “Map” ini akan membuka akses untuk sebuah level tantangan khusus bernama Depths, yang jadi gudangnya material dan Haze jika ingin Anda eksekusi. Beberapa dari NPC ini akan menuntut cukup banyak tugas sebelum Anda bisa memanen “MAP” dari mereka dan membuka akses Depths yang ada.

Satu yang unik dari Code Vein dan jadi salah satu elemen yang kami sukai adalah bagaimana mereka menangani sistem Companion yang ada. Bahwa companion-companion yang ikut menemani Anda saat cerita dan bertarung ini bukanlah sekedar karakter pendukung saja, tetapi juga menjadi “toko” untuk mendapatkan item dan senjata yang Anda incar. Namun tidak membelinya dengan menggunakan Haze, Anda harus membangun level kedekatan dengan secara konsisten memberikan mereka beragam hadiah yang Anda temukan di sepanjang perjalanan.

Berita baiknya? Hubungan pertemanan ini dipresentasikan secara kuantitatif hingga Anda tidak hanya bisa melihat efektivitas hadiah yang Anda berikan saja, tetapi juga sekaligus jumlah yang dibutuhkan untuk mendapatkan item yang spesifik hanya tersedia di karakter tersebut. Sebagai contoh? Louis mematok pedangnya di level kedekatan 50. Untuk bisa mendapatkannya, Anda hanya perlu memberikannya hadiah sebanyak dan seefektif mungkin hingga level kedekatan tersebut menyentuh angka 50, yang kemudian seperti halnya mata uang, bisa Anda “habiskan” untuk mendapatkan pedang tersebut. Beberapa karakter companion juga menjual item material yang bisa Anda sematkan di senjata atau Blood Veil untuk efek tertentu, seperti Poison atau Slow misalnya.

Setiap karakter companion juga berperan sebagai “toko” dengan item spesifik yang bisa Anda kejar lewat kedekatan hubungan yang terkuantifikasi.

Dengan material dan Haze yang cukup, Anda bisa menempa senjata dan Blood Veil Anda.
Karena seperti halnya game dengan tema seperti ini, selalu ada kesempatan untuk memperkuat karakter di luar sekedar kenaikan level saja. Jika Anda menemukan item material yang tepat, yang biasanya dimulai dengan kata “Queen” di depannya, Anda bisa menempa pedang dan Blood Veil Anda di karakter blacksmith bernama Masamune yang akan membuat mereka lebih kuat dan efektif di saat yang sama. Setiap senjata dan Blood Veil bisa diperkuat hingga angka “+10” dimana semakin tinggi, semakin langka pula material yang harus Anda cari. Berita baiknya? Sistem ini menuntut jumlah dan bahan material yang sama di setiap tingkatan, hingga Anda tidak perlu pusing mencari material-material berbeda untuknya.

Maka dengan semua sistem yang ia tawarkan, jelas bahwa Code Vein berakhir menjadi sebuah game Souls-like yang tetap punya identitasnya uniknya sendiri, terutama dari sistem Blood Code yang berperan tak ubahnya sistem Job di game-game RPG pada umumnya. Bergabung dengan tingkat kesulitan yang menantang, sistem Haze yang bisa jadi motivasi utama untuk menghindari kematian, dan juga sistem misi sampingan dan Depths yang bisa Anda kejar, ada banyak alasan untuk terus sibuk membabat begitu banyak monster di Code Vein.

Mode Multiplayer

Untuk Anda yang masih merasa kesulitan dengan pertarungan di Code Vein, bahkan dengan AI Companion sekalipun, masih ada solusi lain yang bisa Anda tempuh – dengan fitur multiplayer kooperatif yang ia hadirkan. Dengan menu online terpisah yang bisa Anda akses tanpa ketentuan dan syarat berlaku (seperti menggunakan item atau lokasi spesifik seperti game Souls-like pada umumnya), Anda bisa memanggil bala bantuan. Lantas, bagaimana sistem ini bekerja?

Jika Anda adalah pihak yang kesulitan dan memanggil bala bantuan, maka player yang mengunjungi dunia Anda akan tampil sendiri tanpa membawa companion dari dunia mereka, sementara Anda sendiri tetap akan didampingi oleh companion AI Anda sebelumnya. Player yang mengunjungi dunia orang lain akan secara otomatis mengalami scaling kekuatan dan status bergantung pada si “tuan rumah” dan dunia yang tengah ia jelajahi. Ini berarti sang bala bantuan bisa berakhir hadir dengan jumlah HP dan damage serangan yang disesuaikan. Sang pengunjung juga akan memiliki item regenerasi yang hanya dibatasi maksimal hingga 5 buah saja, tanpa kemampuan untuk mengaktifkan Mistle untuk melakukan refresh jumlah tersebut. Sang tamu juga tidak bisa berinteraksi dengan apapun yang tersedia di dunia tuan rumah, termasuk tuas untuk membuka pintu sekalipun.

Bagi karakter yang berkunjung untuk membantu player yang lain, ada beberapa keuntungan yang membuatnya menarik untuk dikejar. Pertama, tentu saja Haze. Berbeda ketika Anda bermain solo, berapa pun Haze yang berhasil Anda kumpulkan selama proses multiplayer akan bisa Anda bawa pulang ke dunia Anda sendiri, tanpa pengurangan, walaupun jika Anda berakhir tewas dan gagal memenuhi misi Anda sekalipun. Ini menjadi metode farming Haze yang lebih minim resiko. Kedua? Mode multiplayer juga menyediakan resource lain bernama Medals yang esensial jika Anda hendak mengejar trophy Platinum di versi Playstation 4 atau sekedar ingin pamer dengan status dan banner Anda saat menjelajahi mode multiplayer yang lain.

Namun sayangnya, mode multiplayer di Code Vein memang terhitung tidak sempurna. Masih ada beberapa hal yang sepertinya kurang dipikirkan matang, di luar kerja server dan sinkronisasi minim masalah yang memang pantas untuk diacungi jempol. Keluhan ini misalnya muncul dari konsekuensi kematian itu sendiri.

Alih-alih membiarkan Anda dan tuan rumah untuk terus berjuang bersama hingga Anda berhasil mengalahkan boss misalnya, Anda atau tuan rumah yang sempat tewas akan langsung “dibuang” ke dunia masing-masing dan harus mengulang proses matchmaking lebih awal. Tidak ada kesempatan untuk memilih dan menentukan apakah Anda ingin tetap bersama atau tidak di akhir, yang harus diakui, terkadang jadi opsi yang esensial. Namun berita baiknya? Setidaknya sistem revive dari companion AI akan langsung otomatis berlaku untuk karakter tamu dan karakter tuan rumah ketika salah satu atau keduanya terperangkap dalam kondisi terdesak.

Adalah reward dalam bentuk Medals yang terhitung timpang. Code Vein sendiri membagi pengalaman multiplayer ini ke dalam dua area besar – Story dan Depths. Bergantung dimana Anda menjawab atau memanggil bala bantuan, maka di situlah pula fitur co-op akan aktif. Sebagai contoh? Jika Anda memilih menjawab permintaan tolong di Depths, maka co-op akan berkisar pada misi-misi Depths. Sementara jika Anda menjawabnya di area-area di luar Depths, maka co-op akan berkisar pada misi utama yang tengah dijajal player lain, yang berarti menyangkut proses eksplorasi dan akan berakhir di pertarungan boss di area tersebut.

Permasalahannya, mengingat Medals hanya akan jatuh 1 buah di setiap pertarungan boss atau mini-boss, maka proses co-op di sisi Story sama sekali tidak menggoda. Mengapa? Karena Anda bisa saja berakhir melakukan proses eksplorasi bersama si tuan rumah, selama 20 menit – 1 jam, bertarung melawan 1 boss di akhir dan hanya mendapatkan 1 Medals saja sebagai reward. Sementara di Depths, yang notabene pendek dan bisa berisikan 3 mini-boss dan 1 buah boss besar di akhir, Anda bisa mendapatkan 4-5 buah Medals sekaligus hanya dalam waktu belasan menit saja.

Ketimpangan ini tentu saja membuat gamer-gamer yang mengejar Medals lebih memilih untuk melakukannya di Depths, alih-alih membantu gamer yang tengah kesulitan di sisi Story. Butuh proses balancing yang lebih baik di sisi reward untuk membuat keduanya terasa pantas untuk dikejar, apalagi dengan eksplorasi di co-op Story yang tentu saja menuntut waktu lebih banyak. Belum lagi potensi untuk mati di co-op Story juga lebih tinggi, yang bisa saja berakhir membuat aksi bantu-membantu tuan rumah Anda ternyata harus berakhir sebelum Anda mendapatkan medal sama sekali. Membingungkan memang.

Maka dengan mode multiplayer co-op seperti ini, Code Vein yang pada dasarnya sudah terhitung sebagai sebuah seri Souls-like yang bebas stress, kini tampil lebih mudah. Ada sedikit scaling kekuatan musuh memang yang membuat mereka lebih tebal di sisi HP, namun sama sekali tidak cukup signifikan untuk menawarkan tantangan bagi tim yang alih-alih berisikan 2 orang, kini berisikan 3 orang dengan senjata dan skill yang lebih mematikan.

Dunia Code Vein

Hal menarik lain yang ditawarkan Code Vein adalah multiple endings, yang tentu saja juga berarti replayability lebih tinggi. Bahwa Anda untuk bisa melihat semua ending yang tersedia – yang terbagi ke dalam tiga ending: buruk, netral, dan baik, Anda memang harus memainkan dan menyelesaikan Code Vein setidaknya tiga kali. Untuk Anda yang berambisi untuk mengejar trophy atau sekedar penasaran dengan konten yang tersedia untuknya, ini menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Karena tidak seperti beberapa game dengan multiple endings yang biasanya menyediakan satu titik checkpoint dimana Anda selalu bisa membangun manual save darinya dan kemudian meneruskan cerita dari titik tersebut untuk menjajal ragam ending opsi yang tersedia, Code Vein tidak memungkinkan hal tersebut terjadi. Ending seperti apa yang Anda dapatkan akan sangat bergantung pada satu aksi spesifik yang harus Anda tempuh di 4 skenario yang berbeda, yang notabene, memang terikat pada progress cerita linear yang Anda dapatkan. Tidak ada “jalan belakang” untuk sistem ini, yang tentu membuat Anda harus setidaknya terjun hingga NG++ setidaknya.

Code Vein juga tidak pernah secara eksplisit menjelaskan ketiga ending berbeda ini, hingga satu-satunya cara untuk mengetahuinya memang dari informasi dunia maya atau ketika melihat daftar trophy yang tersedia. Ending-ending ini, terutama untuk Best Ending, sangat mudah dilewatkan jika Anda tidak saksama mencari item yang dibutuhkan untuk memicu setiap indikator yang dibutuhkan untuknya. Namun berita baiknya? Setidaknya ada beberapa progress dari playthrough pertama yang akan dibawa ke NG+ dan selanjutnya, yang tentu saja akan membuat perjalanan Anda menjadi jauh lebih mudah.

Ada satu kejutan ekstra yang mungkin bisa Anda sebagai mini-spoiler. Bahwa terlepas dari nama Code Vein yang ia usung, sepertinya jelas ada sinyal bahwa game ini punya keterikatan dengan franchise Bandai Namco lain yang saat kalimat ini selesai Anda baca, sepertinya sudah bisa Anda prediksi sendiri. Bahwa dunia di luar kabut merah yang selama ini menjadi pagar dan mimpi buruk para Revenant mungkin sebenarnya memuat ancaman yang lebih besar daripada yang selama ini mereka bayangkan. Ancaman dari makhluk milik dewa yang datang untuk satu misi yang sama – kehancuran dunia.

Kesimpulan

Pengalaman Code Vein secara keseluruhan bisa dibilang solid. Bahwa rasa pesimis kami berhasil dibalik dengan pengalaman yang ternyata berakhir seru dan menyenangkan. Tidak hanya menarik untuk para penikmat anime / manga saja, tingkat kesulitan yang jauh lebih bersahabat untuk sebuah game yang menawarkan cita rasa “Souls-like” yang kekentalannya seolah semakin berkurang seiring progress karakter, akan membuatnya tampil sebagai pintu gerbang paling rasional bagi gamer-gamer penasaran yang tidak pernah bisa menyelesaikan satupun seri Souls selama ini.

Kami cukup terkejut bahwa setelah impresi masa demo, khususnya alpha beberapa waktu lalu yang tidak meninggalkan kesan mendalam, versi final Code Vein justru berakhir kami nikmati. Kesempatan untuk menikmati pengalaman yang sesungguhnya dari game yang sekedar menyandang predikat sebagai “Souls versi Anime” ternyata berakhir dengan proses eksplorasi dan pertarungan yang cukup seru, lengkap dengan mekanik gameplay unik yang tumbuh menjadi identitasnya. Bahwa pada akhirnya, ia terasa seperti sebuah seri Souls-like yang jauh jauh jauh lebih bebas stress berkat implementasi sistem Companion AI, sistem skill dengan resource yang mudah didapatkan, hingga multiplayer kooperatif yang bahkan membuatnya semakin sederhana. Menikmatinya bersama dengan cerita, desain karakter (terutama karakter wanita), dan presentasi dunia yang punya cita rasa anime yang kental, ia punya target pasar yang jelas. Apalagi Anda juga disuguhkan dengan sistem cipta karakter dengan variasi aksesoris dan personalisasi wajah yang super lengkap.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini bisa dibilang sempurna. Selain sistem reward untuk multiplayer co-op di sisi cerita yang sama sekali tidak terasa sepadan dan lebih baik dihindari, Code Vein juga menyajikan sistem gameplay lain yang ia padukan untuk menjelaskan latar belakang cerita karakter-karakter penting di hub yang mereka sebut sebagai “Vestige”. Tersebar di dunia dalam bentuk kepingan, Anda diminta untuk menonton dan menyaksikan terlebih dahulu belakang cerita karakter-karakter yang terhubung pada Vestige tersebut dalam bentuk layaknya mimpi, dimana Anda harus berjalan di ruang kosong, melihat sebuah potongan batu statis yang memainkan dialog aktif di belakang. Presentasi setengah hati seperti ini membuat kami sama sekali tidak tertarik untuk memahami dan mengerti kisah-kisah karakter companion yang ada. Mengapa ia tidak diracik layaknya cut-scene yang seharusnya? Kami juga tidak mengerti.

Namun di luar kedua kekurangan tersebut, pengalaman Code Vein secara keseluruhan bisa dibilang solid. Bahwa rasa pesimis kami berhasil dibalik dengan pengalaman yang ternyata berakhir seru dan menyenangkan. Tidak hanya menarik untuk para penikmat anime / manga saja, tingkat kesulitan yang jauh lebih bersahabat untuk sebuah game yang menawarkan cita rasa “Souls-like” yang kekentalannya seolah semakin berkurang seiring progress karakter, akan membuatnya tampil sebagai pintu gerbang paling rasional bagi gamer-gamer penasaran yang tidak pernah bisa menyelesaikan satupun seri Souls selama ini.

Kelebihan

  • Pendekatan visual bergaya anime
  • Musik yang dramatis
  • Desain karakter dan monster
  • Fan-service mumpuni
  • Companion AI super cerdas untuk menjalankan perannya
  • Multiplayer co-op tanpa resource untuk bisa dieksekusi
  • Opsi untuk menggunakan VA Jepang
  • Tingkat kesulitan bersahabat, tetapi juga bisa dipersulit dengan memilih bertarung seorang diri
  • Fitur kustomisasi tampilan karakter melimpah

Kekurangan

  • Menyelami lebih dalam kisah karakter pendukung dengan aksi statis seperti ini benar-benar membosankan.
  • Build karakter tidak sebebas yang dibayangkan
  • Terkutuklah Cannoneer dan Blade Bearer!!
  • Reward untuk multiplayer co-op di sisi cerita tidak terasa sebanding dengan kerepotan yang ada
  • Sistem memori Vestige yang disajikan dalam gambar statis yang membosankan
  • Cocok untuk gamer: pencinta anime / manga action, yang menginginkan cita rasa Souls yang lebih bersahabt

Tidak cocok untuk gamer: yang ingin rasa masokisnya terpuaskan, mengingatkan game dengan sistem pertarungan yang mendalam

Please rate this

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here